Kamis, 10 Juli 2008

Pameran Matari Advertising

Pada tanggal 7 April 2008 di Hotel Gran Melia yang berada di bilangan Rasuna Said, Jakarta, diselenggarakan pameran yang diadakan oleh Matari Advertising,sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang periklanan. Selain berisi napak tilas atau sejarah perjalanan perusahaan tersebut, acara juga diisi dengan peluncuran buku yang diberi judul Rumah Iklan.

Isi pameran sendiri cukup lengkap. Dibagi atas 4 dekade bagian,tahun 1970-an,1980-an,1990-an,serta periode 2000-an, diperlihatkan poster-poster iklan beraneka jenis sesuai masanya masing-masing. Selain itu disajikan juga kepada pengunjung peralatan-peralatan yang digunakan oleh kegiatan periklanan dari masa ke masa.Seperti mesin cetak tahun 1970-an yang masih sangat manual, alat duplikat kaset yang masih sangat sederhana, sampai sistem pencahayaan untuk adegan syuting iklan.



















Dan ada satu yang menarik, disediakan ruang khusus yang memutar iklan-iklan televisi jaman dulu, yang untuk pemirsa jaman sekarang mungkin menjadi terasa lucu melihatnya. Mungkin pembaca yang berasal dari generasi yang masih sempat menonton acara Siaran Niaga tahun 70-an di TVRI,mungkin dapat membayangkan bagaimana sajiannya. Dan memang setiap yang menonton pasti tertawa terbahak-bahak.









Rasanya hati cukup terpuaskan melihat seluruh isi pameran ini. Kita menjadi tahu perkembangan dunia periklanan Indonesia dari masa ke masa, dan tidak hanya menikmati produk masa sekarang saja. Terima kasih juga kepada Matari yang bersedia memberi informasi ini kepada masyarakat Indonesia dan cukup menghibur.

Rabu, 09 Juli 2008

Pameran Lukisan Red Planet di Galeri Nasional

Ini adalah postingan pertama saya dalam blog ini.Hari ini aku pergi ke Galeri Nasional Indonesia yang letaknya di daerah Gambir, Jakarta Pusat. Ada acara pembukaan pameran lukisan. Pameran bertajuk Red Planet atau Planet Merah ini berisi lukisan-lukisanš dari seorang pelukis Thailand, Vasan Sittiket.

Vasan dikenal di negara asalnya sebagai seorang seniman yang menjadi "duri" bagi pemerintahan Thailand selama 2 dekade terakhir. Seperti juga rekannya di Indonesia, Vasan menzoroti perilaku korupsi para pejabat negaranya,penghasutan massa,serta berbagai kebatilan lainnya. Dengan terbuka Vassan mengkritik pemerintah,militer,pemuka agama Buddha dan budaya konsumtif Thailand yang merajalela dan desdruktif.
Hasratnya untuk melakukan tekanan pada perubahan berpuncak pada upayanya memasuki kancah politik nasional. Setelah mendirikan Artist Party (Partai Seniman) pada tahun 2004,Vasan mengajukan diri sebagai calon dalam pemilihan anggota parlemen pada 23 Desember 2007.









Seiring dengan waktu Vasan mulai melihat dunia lebih global.Vasan mulai mengerti akan hegemoni negara-negara adikuasa di luar batas negara mereka. Ia mengkritik pemerintahan Amerika Serikat yang dia anggap agresif dan dominan secara ideologi.Ia menyoroti impor kapitalisme dan nilai budaya Amerika ke Thailand yang ia anggap mengancam budaya bangsanya. Dan seiring pecahnya perang di Irak dan Timur Tengah, Vasan mengalihkan perannya sebagai seorang pecinta damai dan memilih berjuang melalui kata-kata,kuas, pertunjukan dan lagu. Namun begitu AS bersiap-siap menyerbu Irak pada awal 2003, Vasa merasakan dorongan untuk bertindak lebih jauh daripada hanya mengutuk dari studionya yang aman di Bangkok.

Maka dimulailah pengalaman yang nyata oleh Vasan di Irak. Pada Maret 2003 Vasan Sittiket berangkat ke Irak bersama delegasi resmi 13 orang yang terdiri dari politisi,akademisi,jurnalis dan LSM. Hasil dari perjalanan selama 8 hari (6-14 Maret 2003) inilah yang menjadi isi dari kumpulan besar karya seni dan dokumenter Planet Merah.
Planet Merah dan seri penutupnya: Perang Irak 5 tahun kemudian telah mengantarkan ekspresi seni Vasan Sittiket zang paripurna